"Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan kami itu dengan pedang- pedang mereka."
Saudaraku,
Kehidupan, tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada asal, perlu perbekalan, ada terminal tempat istirahat, dan punya tujuan. Ilustrasi seperti itu disampaikan oleh Rasul saw kepada para sahabatnya. Rasul pernah menggambarkan hidup dunia, ka raakibin istadzalla bi syajaratin tsumma raahaa wa tarakaha. Seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, ia beristirahat tapi setelah itu ia tinggalkan pohon tersebut. Dan, karenanya, Rasul memberi panduan agar hidup ini disikapi sebagai sesuatu yang sementara. Kun fi dunya ka annaka ghariibun au' abiri sabiil, hiduplah engkau di dunia, seperti orang asing, atau orang yang dalam perjalanan. Orang asing, selalu hati-hati. Sebab, ia belum paham betul seluk beluk wilayah yang ia tempati. Hati-hati terhadap aral, waspada terhadap berbagai kemungkinan buruk. Sedangkan orang yang dalam perjalanan, akan berpikir bagaimana mencapai tujuan, bekal apa saja yang harus disertakan, dan yang pasti akan ada saat ia harus mengakhiri perjalanan itu.
Saudaraku,
Dalam perjalanan ini, peluang dan kesempatan kita sama. Allah telah memberikan kita petunjuk melalui Al Qur'an dan sunnah Rasul-Nya. Allah telah memberi kita kemampuan berfikir, dan memberi kita sejumlah kewajiban. ltulah bukti rahmat Allah SWT. Setelah itu, kita semuanya, diberi pahala atas kebaikan yang dilakukan, dan hukuman dari segala keburukan. Kenyataan ini, menjadikan kita selalu berada dalam ujian Allah SWT. Mungkin kita diuji dengan kesenangan, harta yang cukup, rnisalnya. Apakah kita mampu mengiringinya dengan syukur? Mungkin kita diuji melalui ragam kesulitan. Misalnya, kesulitan ekonorni dan setumpuk masaIah keluarga. Apakah kita mampu bersabar? Jangan katakan, bahwa ujian dengan kesenangan itu lebih baik daripada ujian lewat kesulitan. Karena para sahabat dahulu justru menjauh dari hidup senang, lantaran khawatir fitnah kesenangan lebih mendorong mereka untuk lupa dan lalai terhadap kewajiban. Para sahabat bahkan justru tak ingin lepas dari urian hidup. Seperti ungkapan do'a Abdullah bin Mas'ud: "Janganlah kalian berdo'a dengan mengatakan: 'Ya Allah aku berlindung kepadamu dari berbagai ujian hidup." Karena tak seorang pun kalian yang terhindar dari ujian. Allah sudah mengatakan, "Sesungguhnya harta dan anak kalian adalah fitnah (ujian)," maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari kesesatan dan bahaya fitnah."
Saudaraku,
Perjalanan hidup kita yang panjang, penuh peluh dan ujian ini, harusnya tidak merubah skenario perpindahan yang seharusnya kita lewati. Perpindahan dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Perpindahan dari jahiliyah kepada Islam, dari kemaksiatan kepada ketaatan. Kemudian saling berlomba melakukan kebaikan, dan bergabung dalam sebuah parade juru da' wah, meraih mardhatillah. Banyak perbekalan yang hams kita siapkan dalam menempuh perjalanan ini. Kita harus kenali siapa kawan dan siapa lawan. Kita harus tahu tabi' at perjalanan. Kita harus paham ke mana arah yang paling tepat mencapai tujuan. Kita juga harus mengerti sarana apa yang paling baik, yang membawa kita kepada tujuan perjalanan. Dan kita harus seksama. menangkap rambu-rambu yang ada, agar tidak tersesat di tengah jalan.
Allah swt Maha Rahmah, telah memberi sejumlah rambu perjalanan yang secara fitri kita semua dapat merasakannya. Rambu tersebut ibarat pagar yang akan membimbing dan memelihara kita untuk tetap berada di jalur kebenaran.
Pertama, rambu itu bernama ta 'jilul 'uqubah (percepatan hukuman). Allah akan memberi hukuman sebagai dampak atau akibat, langsung setelah kita melakukan kesalahan. lnilah salah satu bentuk kasih sayang Allah swt. Bila di antara kita melakukan kesalahan, dosa, atau kemaksiatan, biasanya Allah memberikan hukuman langsung agar kita sadar dan kembali pada jalan yang benar. Fudhail bin lyadh rahimahullah pernah mengatakan, "Banyak orang mempunyai mata, tapi pandangan hatinya redup. Banyak yang memiliki ketajaman lisan, tapi hatinya tidak bersinar. Banyak yang melakukan dosa dalam makanan, hingga ia terhalang melakukan shalat malam, dan sulit mengecap kenikmatan dalam bermunajat pada Allah."
Hal ini pula yang dikatakannya suatu saat, "Aku mengetahui kesalahan dan dosaku kepada Allah, melalui sikap istri dan keluargaku, sikap kendaraanku, hingga sikap tikus-tikus di rumahku..." Subhanallah.
Saudaraku,
itulah sebabnya, tak pernah ada seorang pezina merasa senang dan nikmat menikah dengan pezina. Seorang pencuri pun tak pemah merasa tenang menggunakan harta curiannya. Karenanya, kita harus senantiasa sensitif menangkap rambu ini. Bisa jadi, kebanyakan maksiat mata akan menjadikan kita tidak mendapatkan sikap istri seperti - yang diinginkan. Mungkin saja, karena kita boros membelanjakan harta, hal itu akan menutup barakah harta yang sudah kita dapatkan. Bisa pula sikap kikir waktu untuk berjuang fi sabilillah semakin mendorong banyaknya tuntutan waktu untuk bekerja duniawi. Sementara di sisi lain, waktu untuk beribadah semakin berkurang hingga yang terasa hanyalah suasana hati yang semakin terhimpit.
Kondisi ini disebut juga dengan istilah ibratul utsrah yang artinya peristiwa ketergelinciran yang bisa memberi kita pelajaran. Kesalahan yang kita lakukan, membuat kita tersadar. Ibaratnya, seorang yang terpeleset atau tersandung karena ceroboh dalam berjalan, akan tersadar dan menoleh. Apa yang menyebabkannya terpeleset atau tersandung? Setelah itu, ia akan lebih hati-hati berjalan.
Kedua, rambu itu bemama laddzatu tha' ah, kenikrnatan dan kebahagiaan yang kita rasakan setelah berbuat ketaatan. RasakanIab kenikrnatan kala kita mampu bersabar menahan syahwat dan meninggalkan maksiat. Allah akan memberi balasan atas kesabaran itu dengan kenikmatan, rasa senang, dan tentram. Tidak saja di dunia, tapi juga kebahagiaan di hari akhir. Perhatikanlah, orang yang mengeluarkan hartanya untuk kepentingan da'wah. Harta yang diberikan, mungkin tidak secara kongkrit diganti Allah dengan harta serupa. Namun Allah berikan nikmat sehat pada keluarganya, pada istri dan anak-anaknya. Dengan demikian Allah menyusupkan kebahagiaan tiada tara kepadanya. Ada pula orang yang kikir berinfaq, yang karenanya Allah memberinya bermacam penyakit hingga hartanya ludes sedikit demi sedikit, untuk mengobati sakitnya.
Pengorbanan waktu dan kesungguhan dalam berda'wah, kerap menumbuhkan kebahagiaan khas dalam hati seseorang serta rasa cinta pada sesama. Tak jarang hal itu mampu menambah kekuatan fisik dan keceriaan wajah. Orang lainpun bahkan ikut merasa nyaman bersama orang tersebut. Lebih jauh lagi, pengorbanan itu akan terbalas dengan rasa nikmat dan khusyu' hidup bersama barisan juru dakwah. Semua itu tak mungkin dirasakan oleh mereka yang tenggelam dalam kemaksiatan, meski ia penuhi semua kebutuhan nafsu dengan limpahan harta.
Saudaraku,
Rahmat Allah adalah hak setiap kaum beriman. Inilah yang dikatakan para salafusshalih: "Kasihan para orang yang lalai, mereka keluar dari dunia, tapi tidak sempat merasakan sesuatu yang paling indah di dunia." Tabi'in yang lain mengatakan, "Andai para raja itu tahu kebahagiaan yang kami miliki, pastilah mereka rebut kebahagiaan itu dengan pedang-pedangnya."
Diambil dari : usahamulia.net